Jumat, 01 Oktober 2010

Persib Ingin Ciptakan Gol Cepat

Persib akan berusaha menciptakan gol lebih cepat agar bisa mengendalikan permainan saat melawan Deltras pada laga tandang kedua Djarum Liga Super Indonesia (DLSI) 2010-2011, di Stadion Delta Sidoarjo, Sabtu (2/10). Hasil seri 1-1 yang diraih saat menghadapi Persela Lamongan, Selasa (28/9) lalu, menjadi salah satu modal skuad "Pangeran Biru" untuk bisa menampilkan performa terbaik mereka.

Optimisme ditunjukkan Pelatih Persib Jovo Cuckovic. Pelatih asal Serbia itu mengakui ada sejumlah masalah di dalam tubuh Persib, seperti konsentrasi dan disiplin di setiap lini. Namun, dia yakin anak asuhannya dapat mengatasi permainan Deltras.

"Dengan waktu yang singkat ini, saya berusaha keras mematangkan komposisi yang saya rencanakan. Kami sama-sama optimistis untuk bisa menang," ujar Jovo kepada para wartawan, termasuk wartawan Pikiran Rakyat Windy Eka Pramudya dan Andri Gurnita, Jumat (1/10).

Pada sesi uji coba lapangan di Stadion Delta Sidoarjo, Jumat (1/10), Pelatih Jovo mencoba memasang komposisi pemain 4-4-2. Jovo mencoba untuk memasang Shahril Ishak di lini tengah bersama Eka Ramdani, Hariono, dan Atep. Jovo juga menajamkan duet lini depan, Cristian Gonzales dan Pablo Frances. Sementara itu, penjaga barisan belakang tetap dipercayakan kepada Isnan Ali, Nova Arianto, Maman Abdurahman, dan Baihakki Khaizan.

Asisten Pelatih Persib Robby Darwis mengatakan, Pelatih Jovo sudah mengevaluasi Deltras dan mengambil kesimpulan bahwa Persib harus mempertajam lini depan untuk meredam agresivitas "The Lobster".

Menurut Robby, harus diakui para pemain Persib masih minim koordinasi dan komunikasi. Hal ini disebabkan waktu latihan serta berkumpul yang sebentar. Namun, pelatih dan pemain sudah membenahi hal ini. Mereka juga tidak boleh memandang remeh Deltras yang merupakan tim promosi dari Divisi Utama.

"Kami menargetkan bisa mencetak gol pada menit-menit awal. Hal ini sebagai upaya untuk mengendalikan permainan. Karakter permainan Deltras adalah memberikan pressing sejak awal, ini yang harus dihindari," kata Robby.

Berdasarkan catatan DLSI musim 2008-2009, Persib memiliki torehan yang bagus atas Deltras. Skuad "Maung Bandung" menang 2-0 saat tandang ke Stadion Delta Sidoarjo, dan kembali menang 6-1 saat menjadi tuan rumah di Bandung.

Dari kubu "The Lobster", Pelatih Mustaqim mengungkapkan, kemenangan telak 3-1 atas Sriwijaya FC menjadi indikasi anak asuhnya sudah tahu apa yang harus dilakukan. Dia juga senang, karena para pemainnya cukup disiplin berada di posisinya.

"Anak-anak punya motivasi lebih untuk mengalahkan tim sekelas Persib. Pasti ada gengsi tersendiri jika bisa mengalahkan Persib," tuturnya.

Mustaqim mengaku, lini tengahnya masih harus dibenahi karena masih sering terjadi celah sehingga mudah ditembus. Dia mewaspadai ketajaman Cristian Gonzales mencetak gol, serta suplai bola kepada penyerang asal Uruguay itu.

"Saya memprioritaskan Marcio Souza untuk menangani bola-bola mati. Duet Marcio dengan Cristiano Lopez untuk saat ini menjadi tumpuan saya. Makanya saya agak khawatir dengan cedera ringan ankle kiri Lopez," katanya. Mustaqim menargetkan timnya dapat kembali mendulang tiga poin seperti saat mengalahkan Sriwijaya FC.

Tak Keberatan Dipanggil "Abah"

PADA awalnya, Jovo Cuckovic datang ke Persib Bandung dengan status sebagai asisten pelatih Darko-Daniel Janackovic. Jovo pun datang ke Bandung atas rekomendasi pelatih asal Prancis berdarah Serbia tersebut.

Tapi hanya sepekan menjelang kompetisi bergulir, Janackovic berseteru dengan para pemain pada masa pemusatan latihan di Cirebon. Akibatnya ia pun terdepak dari posisinya sebagai pelatih kepala. Meski sempat "mengungsi" bersama Janackovic ke Jakarta, Jovo akhirnya kembali ke Bandung setelah manajemen klub Persib memutuskannya menjadi pelatih pengganti.

Berbeda dengan Janackovic, kehadiran Jovo cukup diterima pemain. Meski dalam memimpin latihan tergolong keras, Jovo dinilai lebih komunikatif dengan para pemain dan ofisial tim Persib. Ia juga disukai karena punya sense of humor.

Meskipun demikian, pribadi Jovo tetaplah misterius. Tidak banyak yang tahu tentang latar belakang dan karier kepelatihannya. Bahkan ketika dipercaya menjadi pelatih kepala Persib, banyak yang meragukan lisensi kepelatihannya.

Misteri tersebut akhirnya sedikit terkuak di Sidoarjo. Dalam sebuah perbincangan santai di lobi Hotel The Sun, Jln. Pahlawan No. 1 Sidoarjo, Kamis (30/9), pelatih berusia 61 tahun ini sedikit membuka latar belakang kehidupannya.

"Saya lahir di sebuah kota kecil di Kroasia. Waktu itu, negara-negara seperti Kroasia, Serbia, Bosnia-Herzegovina, dan Montenegro masih bersatu di bawah bendera Yugoslavia," tutur pria kelahiran Sisak (Kroasia), 19 Juli 1949 ini. "Meski lahir di Kroasia, sekarang saya warga negara Serbia," tambahnya.

Di Serbia, Jovo memiliki seorang istri, dua orang anak, dan seorang cucu. Karena itu, ketika "GM" bertanya apakah tidak keberatan jika banyak bobotoh memanggilnya dengan sebutan "abah" atau kakek, Jovo mengatakan tidak ada masalah. "No problem. Saya memang punya seorang cucu di Serbia," jawabnya sambil tertawa.

Soal latar belakang kariernya, Jovo menegaskan, dirinya sudah 25 tahun menjadi seorang pelatih. "Usia kamu sekarang berapa? Saya sudah jadi pelatih selama 25 tahun. Mungkin, karier pelatih saya sudah seumur hidup kamu," katanya sambil menanyakan usia salah seorang rekan wartawan yang turut dalam perbincangan santai tersebut.

Menurut pengakuannya, banyak klub di Serbia dan dataran Eropa lainnya yang sudah ia tangani dan diantarkannya menjadi juara. Tapi seperti diakuinya, ia lebih banyak menangani tim-tim akademi dan junior. "Banyak klub yang jadi juara. Saya juga sudah banyak mencetak pemain bagus dari Serbia," ujarnya.

Karena latar belakangnya lebih banyak menjadi pelatih tim junior, tak heran kalau dalam program latihan yang diberikannya kepada para pemain Persib, Jovo lebih menekankan faktor mental dan teknik dasar. "Persoalan terbesar pemain sepak bola di Indonesia adalah soal mental, konsentrasi, dan teknik dasar yang tidak bagus. Mungkin ini karena tidak ada akademi sepak bola yang bagus," tuturnya. (endan suhendra/"GM")**